operatorindonesia

GAMBARAN INDUSTRI ALAT BERAT DI INDONESIA

In Uncategorized on February 14, 2011 at 5:25 am

 

Industri alat berat pada tahun 2010 telah mampu kembali bangkit setelah terpuruk tahun 2009 yang lalu sebagai imbas krisis finansial dunia yang menyebabkan banyaknya proyek konstruksi dan properti yang ditunda dan sulitnya memperoleh pembiayaan untuk pembelian alat berat karena sektor keuangan saat itu sedang terkena imbas krisis finansial dunia sehingga kucuran kredit dari lembaga pembiayaan sulit didapat.

Industri alat berat sempat mengalami pukulan yang hebat akibat krisis finansial global pada tahun 2009. Produksi alat berat nasional menurun dari 5914 unit tahun 2008 menjadi hanya 1814 unit tahun 2009. Produsen utama alat berat di Indonesia yaitu Komatsu, Caterpillar dan Hitachi sempat mengalami penurunan penjualan.

Padahal pada tahun 2008 industri alat berat mengalami pertumbuhan yang pesat dengan maraknya pertambangan batubara dan perluasan kebun kelapa sawit. Demikian juga sektor konstruksi dan properti tumbuh pesat sehingga permintaan terhadap berbagai alat berat sangat tinggi. Pada tahun itu banyak pesanan pembelian alat berat yang harus menunggu sampai lebih dari 6 bulan karena produsen alat berat tidak mampu memenuhi pesanan yang telah melebihi kemampuan produksinya.

Ketika pada pertengahan tahun 2008 terjadi krisis finansial global, dampaknya terhadap industri alat berat baru terasa tahun 2009, karena sampai akhir 2008 umumnya penjualan alat berat hanya memenuhi pesanan yang sudah dibuat sebelumnya. Gejolak krisis finansial sangat terasa pada tahun 2009 dengan banyaknya rencana pembelian alat berat yang ditunda karena proyek yang akan memakainya juga tertunda, seperti proyek properti dan konstruksi. Umumnya hambatan yang terjadi karena sulitnya pembiayaan karena bagi proyek yang masih jalanpun seperti pertambangan batubara dan kebun kelapa sawit, pengadaan alat berat menjadi sulit karena sulitnya pendanaan.

Memasuki tahun 2010, industri alat berat mampu bangkit kembali, karena krisis finansial global ternyata tidak berdampak banyak terhadap perekonomian Indonesia. Pertambangan batubara kembali melakukan pembelian alat berat demikian juga proyek perkebunan seperti kelapa sawit. Sementara itu proyek properti sudah mulai bangkit sejalan dengan pulihnya sektor keuangan di Indonesia yang ternyata tidak mengalami banyak pengaruh negatif dari krisis finansial global.

Kalangan industri alat berat melihat tahun 2010 dengan optimis dan mampu meningkatkan kembali penjualan.Selama semester I tahun 2010 produksi alat berat di Indonesia telah mencapai 2495 unit meningkat jauh dibanding tahun 2009 karena secara keseluruhan produksi tahun 2009 hanya mencapai 1814 unit.

Jenis alat berat

Jenis produk dan type alat berat yang diproduksi oleh tiga produsen alat berat di Indonesia. Komatsu paling banyak jenis produksinya yang meliputi excavator, Buldozer, Motor Grader dan dump truck. Caterpillar Indonesia (Natra Raya) yang memproduksi merk Caterpillar, memproduksi excavator, buldozer dan motor grader untuk type yang paling banyak dipakai di Indoesia. Misalnya excavator yang type 320 C yang bersaing dengan Komatsu type PC-200 yang berkapasitas sekitar 20 ton.

Dalam rangka menghadapi persaingan yang semakin ketat, Komatsu meluncurkan produk excavator terbaru yaitu excavator seri PC 200-8, PC 400-8 dan PC 130-8 pada bulan Maret 2010.

PC 200-8 dipasarkan dengan harga jual US$ 111 ribu atau setara dengan Rp 1 miliar. Selain seri PC 200-8, perseroan juga melanching PC 130F-7 dan PC 400-8. Ketiga produk ini telah dilengkapi oleh teknologi KOMTRAX (Komatsu Machine Tracking System), yaitu sistem berbasis website, hingga pemantauan dapat dilakukan dimana pun, dan kapan pun. Dengan produk baru ini, UT yakin akan dapat bersaing dengan kompetitor, khususnya alat berat buatan China.

Tingkat kandungan dalam negeri industri alat berat pada tahun 2009 lalu berkisar antara 30% sampai 50%. Angka itu di targetkan meningkat pada tahun 2010 menjadi 50-60%. Local content untuk alat berat jenis ekskavator pada tahun lalu mencapai 50%, dump truck 30%, buldoser 45%, motor grader 40%, dan forklift 40%.

Impor bahan baku alat berat, selama ini berupa center bracket, monitor panel, mesin, dan komponen hidrolis (hydrautic part). Sedangkan komponen alat berat seperti cutting plate, ban, baterai, dan under carriage part sudah mampu dipasok industri penunjang dalam negeri.

Komatsu telah membangun fasilitas pengecoran yang kedua miliknya untuk memproduksi suku cadang yang berupa besi cor dengan kapasitas 1.800 ton untuk meningkatkan local content dari ondustri alat beratnya di Indonesia.

Produsen Alat berat di Indonesia

Indonesia memiliki tiga produsen alat berat yang memproduksi excavator, bulldozers, motor graders dan dump trucks. Ketiga perusahaan itu adalah PT Komatsu Indonesia yang memproduksi lat berat dengan merk Komatsu, PT Caterpillar Indonesia (dahulu PT Natra Raya) dengan merk Caterpillar, PT Hitachi Construction Machinery dengan merk Hitachi. Ada produsen lain yaitu PT United Tractors Pandu Engineering yang memproduksi forklift dengan merk Patria.

PT Komatsu Indonesia

PT Komatsu Indonesia berdiri tahun 1982 di Cakung, Jakarta Utara. Perusahaan ini memililik fasilitas produksi yang terintegrasi disatu tempat meliputi area seluas 18,2 ha terdiri dari 15.876 m2 untuk fasilitas perakitan, 15.390 m2 untuk fasilitas pabrikasi 11.800 m2 fasiltas foundry plant 1 dan 10,000 m2 foundry plant 2 and 3.

Semula perusahaan ini hanya mengerjakan perakitan alatb berat Kopmatsu yang komponennya diimpor dari Jepang. Kemudian pada tahun 1987 perusahaan mulai membangun fasilitas pembuatan komponen. Sejak itu Komatsu Indonesia berhasil meningkatkan local content-nya dan mulai mengekspor komponen alat berat ke Jepang untuk digunakan oleh Komatsu Ltd. Selanjutnya pada tahun 1991, Komatsu Indonesia membangun fasilitas foundry untuk membuat komponen alat berat yang juga digunakan oleh pabrik Komatsu di seluruh dunia.

Pada tahun 1995 PT Komatsu Indonesia menjadi perusahaan publik, namun kemudian kembali menjadi go private tahun 2006 setelah saham publik dibeli kembali oleh Komatsu Ltd termasuk membeli sebagian saham yang dimiliki oleh PT United Tractor sehingga saham UT tinggal 5%. Kapasitas prodksi Komatsu mencapai 3600 unit alat berat per tahun termasuk dump truck sebesar 240 unit per tahun.

PT Caterpillar Indonesia (PT Natra Raya)

Alat berat merk Catgerpillar dirakit di Indonesia oleh PT Caterpillar Indonesia yang sebelumnya bernama PT Natra Raya yang berlokasi di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat. PT Caterpillar Indonesia sahamnya 80% dimiliki oleh Caterpillar dari amerika Serikat dan sisanya dimiliki oleh PT Marga Tiara Trakindo. Agen tunggal Caterpillar di indonmesia adalah PT Trakindo Nusantara.

PT Hitachi Construction Machinery Indonesia

PT Hitachi Construction Machinery Indonesia (HCMI) yang berlokasi di Cibitung, Bekasi, adalah joint venture antara Hitachi Construction Machinery Co. Ltd of Japan , Itochu Corporation dari Jepang, PT Murinda Iron Steel, PT Anggaputra Dhananjaya dan Hitachi Construction Machinery Singapore, Pte. Ltd. Dari Singapore. Perusahaan ini berdiri bulan ei 1991 dan beroperasi semenjak Oktober tahun yang sama.

HCMI memproduksi excavator yang memiliki pasar yang besar di Indonesia. Sejak tahun 2000 permintaan terhadap excavator meningkat sehingga HCMI meningkatkan kapasitas produksi dari 700 unit/tahun menjadi 1000 unit pertahun. HCMI menginvestasikan US$ 10 juta untuk perluasan kapasitas tersebut. Pada tahun 2007 kapasitas produksi HCMI meningkat kembali menjadi 1200 unit/tahun.

HCMI memiliki dua fasiltas produksi di Bekasi yaitu di Cibitung untuk memproduksi excavator dan pabrik di Rawa pasung untuk proses engineering, machining dan pabrikasi alat berat.

Produksi menurut Jenis

Akibat krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2009 yang lalu maka industri alat berat mengalami pukulan yang cukup berat. Menurut data Himpunan Industri Alat-alat Berat Indonsia (Hinabi) sepanjang 2009 produksi alat-alat berat di Indonesia hanya mencapai 1.814 unit, atau turun 69% dibandingkan dengan produksi tahun sebelumnya sebanyak 5.914 unit.

Penjualan alat berat masih mengandalkan sektor pertambangan dengan kontribusi 70%, perkebunan dan kehutanan sekitar 10%, dan konstruksi 20%. Namun memasuki tahun 2010, industri alat berat mampu bangkit kembali sejalan dengan pemulihan ekonomi yang terjadi di Indonesia dan kenyataan bahwa ekonomi Indonesia mampu menghindari dampak buruk krisis finansial global dengan terus tumbuh perekonomiannya sekitar 4,5% tahun 2009 dan diperkirakan bisa mencapai 6% tahun 2010.

Penurunan produksi tahun 2009 terutama terjadi pada sektor kontruksi karena banyaknya proyek konstruksi dan properti yang ditunda pelaksanaanya. Sementara pembelian oleh sektor pertambangan dan perkebunan terhambat karena sulitnya pendanaan karena sektor keuangan sempat terganggu akibat krisis finansial. Sebenarnya sektor pertambangan terutama batubara tidak banyak terpengaruh oleh krisis finansial karena permintaan pasar batu bara tetap tinggi.

Tahun 2010 ini, Hinabi memprediksikan produksi alat berat meningkat menjadi sekitar 4.000 – 5000 unit karena selama semester I tahun 2010 produksi alat berat telah mencapai 2495 unit.

Namun, angka produksi sebesar itu, baru menyamai pencapaian produksi tahun 2007 sebanyak 4.785 unit. Sementara itu, realisasi 2008 yang tercatat tertinggi sepanjang masa sebesar 5.914 unit.

Kemerosotan produksi pada tahun 2009 membuat tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) menurun tajam dari 90% pada 2008 menjadi 34% pada tahun 2009 dari total kapasitas terpasang 6.500 unit per tahun. Dengan kaspasitas terpasang yang sama, berarti utilisasi industri alat berat tahun 2010 akan naik ke kisaran 70%.

Beberapa jenis alat berat yang sudah dirakit di dalam negeri a.l. excavator, bulldozer, motor grader, dump truck, serta forklift. Excavator masih mendominasi produksi alat berat di Indonesia. Selama semester I tahun 2010 dari produksi alat berat sebanyak 2495 unit, sebanyak 1324 unit atau 53% adalah produksi excavator. Baru disusul oleh buldozer sekitar 23 %.

Produsen teresar alat berat di Indoneswia adlah Komatsu. Pada tahun 2007 produksi Komatsu mencapai 2400 unit termasuk 1530 unit excavator. Selengkapnya lihat tabel berikut ini.

Investasi Baru

Pada 2007-2008, industri alat berat melakukan penambahan investasi yang mencapai US$ 180 juta dengan peningkatan kapasitas terpasang sebanyak 3.500 unit. Dari jumlah tersebut investasi untuk penambahan kapasitas terpasang industri alat berat senilai US$ 130 juta dan investasi industri untuk komponen alat berat sekitar US$ 50 juta. Pada tahun 2010 gairah investasi disektor alat berat kembali meningkat setelah pasar alat berat pulih dari dampak krisis yang dirasakan tahun 2009.

PT Komatsu Indonesia merencanakan investasi sebesar US$ 100 juta selama tiga tahun semenjak tahun 2008 untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

Selain Komatsu, peningkatan kapasitas juga dilakukan oleh Hitachi. Hitachi Construction Machinery Indonesia (HCMI) sedang melakukan proyek perluasan yang akan meningkatkan kapasitas produksi dari 3.000 unit per tahun .

 ( diambil dari dataconsult)

 

About these ads
  1. alamat kursusnya daerah mana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: